Penahanan Dokter Bagus Gadungan Di Bone Sulsel Ditangguhkan
Cawapres Sandiaga Uno dalam salah satu momen kampanye (Foto: Instagram @sandiuno)Jakarta -Gagasan itu muncul begitu saja dikala berangkat ke kantor di pagi hari. Di pinggir jalan yang kami lewati, ada goresan pena mencolok: "Ayo mampir sarapan dulu!" Saat saya tengok ternyata sebuah warung yang menjual nasi bungkus yang siap disantap. Siapa yang sanggup menolak usulan itu dikala perut lapar?
Nasi
Nah, inilah yang sesungguhnya diharapkan bangsa ini. Pertama, kebutuhan hidup secara langsung. Di dalam banyak sekali program kampanye, Sandi dengan arif memanfaatkan kebutuhan ini untuk membangkitkan semangat emak-emak untuk mendukung dirinya. Perhatikan jargon yang dipakai, ibarat "Uang 50 ribu sanggup apa?", "Nasi campur di Indonesia lebih mahal ketimbang di Singapura", "Tempe setipis ATM". Atau, berpose menggunakan "wig" pete.
Bisa saja kita mengkritik gaya kampanyenya yang kurang atau sengaja tidak melihat data, sehingga meme sindirannya merebak ke mana-mana. Namun, saya rasa Sandi cukup cerdik. Baik atau buruk, yang terperinci namanya semakin populer. Namanya yang sempat melejit dikala menjadi wagub DKI makin moncer dikala terpilih jadi pasangan penantang Jokowi. Seringnya pemberitaan yang mencantumkan namanya menciptakan nama Sandi begitu populer.
Dari angka-angka di atas kita tahu bahwa sepak terjang Sandi selama kampanye yang gila dan nyeleneh ternyata meningkatkan "elektabilitasnya" di internet. Ingat, iklan yang jelek pun ialah iklan yang menempel di benak khalayak banyak.
Apa kebutuhan khalayak banyak? Nasi! Nasi bungkus pun oke, sehingga demo-demo yang ada nasi bungkusnya katanya lebih banyak diikuti orang ketimbang yang "garingan" (Jawa = tanpa konsumsi).
Siapa bilang jikalau kebutuhan paling fundamental ini hanya diincar kalangan bawah? Bukankah setiap perundingan bisnis yang berakhir manis seringkali dimulai dengan program santap siang atau santap malam di resto maupun hotel?
Saat sebagian wilayah di Indonesia-khususnya seputar tol-di Jawa Timur terendam banjir, masyarakat butuh daerah berteduh dan nasi biar perut pun teduh. Jika kebutuhan yang sangat fundamental ini tidak dipenuhi, sanggup jadi mereka menjadi gaduh. Seorang ibu yang menerobos Paspampres dan pingsan di depan Jokowi menyiratkan bahwa masih ada pembebasan tanah yang tidak "ganti untung" melainkan masih "ganti rugi". Untung Jokowi tanggap dan segera memerintahkan jajarannya untuk mengusut tuntas. Jika tidak, tragedi ini menjadi "gorengan" yang menciptakan isunya jadi gosong.
Jadi, masyarakat ingin kebutuhannya yang mendesak ini segera dipenuhi, entah bagaimana caranya. Bukankah negara dibuat memang untuk menyejahterakan rakyat? Kenaikan honor PNS yang segera dilakukan didukung baik oleh Jokowi maupun Prabowo, meskipun timing-nya dianggap berbau politis.
Infrastruktur
Bagaimana dengan pembangunan infrastruktur yang sedang digarap Jokowi dan tim dengan semangat tinggi? Jalan di pedesaan, tol dan jembatan terus dikebut. Siapa yang bilang tidak penting? Infrastruktur penting sekali.
Sepulang dari Hawaii selama hampir satu bulan, rekan-rekan saya bertanya, "Bagus mana Hawaii dengan Bali?"
"Jujur, Bali lebih indah, namun kalah di infrastruktur!" jawab saya singkat.
Jika dalam kondisi kini saja Bali sudah "mengalahkan" Indonesia dalam hal ketenaran di mata turis mancanegara, jikalau infrastrukturnya diperbaiki terus, hasilnya sungguh luar biasa. Dalam perjalanan dari Sidney ke Denpasar, iseng-iseng saya tanya turis Aussie, "Senang ke Bali?"
Jawabannya sungguh menciptakan saya senang, "Saya sudah ke Bali belasan kali dan tidak bosan!"
Ketika berada di Puncak Padar, saya bertemu serombongan turis dari Brasil. "Wah, negaramu indah sekali. Saya akan ajak lebih banyak teman ke sini."
Pulau Padar memang memukau, namun akan jauh lebih berpendar jikalau pembangunan infrastruktur di sana diperhatikan.
Pembangunan infrastruktur, meskipun hasilnya tidak sanggup kita lihat secara eksklusif dan seketika, menimbulkan multiple effect yang luar biasa. Jika turis membanjir, hotel pun kebanjiran penghuni sehingga occupancy rate-nya naik. Jika banyak turis yang datang, masyarakat yang menggantungkan nafkahnya di bidang tour and travel niscaya terimbas. Para guide hingga penjual suvenir ikut mencicipi manisnya serbuan dolar ini.
Dua Sisi Mata Uang
Bicara soal uang, di mana pun berlaku bahwa dua sisi mata uang selalu berbeda. Makara di satu sisi, infrastruktur harus jalan terus. Di sisi lain, perut rakyat dihentikan dibiarkan kosong terus. Para pemimpin bangsa harus pandai-pandai melaksanakan pengaturan anggaran yang seimbang sehingga naik jalan tol tidak kebanjiran dan kelaparan.
Di dalam setiap kampanye dari kedua belah kubu, mereka terus-menerus menyasar kaum milenial. Bukan hanya sebab jumlah pemilih generasi muda mencapai puluhan juta, namun masa depan bangsa memang ditentukan oleh bawah umur muda. Jepang yang mengalami zero growth, sanggup jadi minus growth, kalau dibiarkan terus menjadi bangsa yang menua. Lihat saja kantor-kantor di Jepang yang dihuni dan didominasi pekerja tua.
Indonesia memiliki jumlah anak muda yang besar. Potensi ini sanggup dianggap berkah, sanggup musibah. Inilah tanggung jawab pemerintah. Pembangunan infrastruktur perlu diimbangi pengembangan SDM yang berkelanjutan. Jangan hingga generasi muda yang jadi back bone negara diabaikan sehingga mengalami back pain dan kesudahannya justru membebani. Misalnya, terpapar narkoba. Apalagi politisi yang terkena dianggap masuk akal dan hanya perlu direhabilitasi. Anak muda ialah aset negara yang sangat berharga.
Saya teringat dikala berada di Perth Mint, penghasil uang logam bagi Australia. Di sana ada timbangan unik. "Coba Bapak berdiri di atasnya," ujar Karen yang menemani saya dan istri ke sana.
Saat berdiri di atas timbangan itu, yang keluar bukan berat tubuh saya, melainkan nilai diri saya jikalau dikonversikan dengan emas. "Wuih, mahal juga nilaimu," ujar Karen.
"San," ungkapnya sambil menoleh ke istri saya, "Boleh nggak suamimu ditukar dengan emas murni seberat tubuhnya?"
Gelengan istri saya menciptakan saya lega. Demikian juga Indonesia. Jangan pernah menukar nilai luhur bangsa dengan kampanye yang penuh lumpur. Jangan tukarkan harga diri dengan iming-iming materi, apalagi hanya senilai nasi bungkus.
Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa
Tulisan ini ialah kiriman dari pembaca detik, isi dari goresan pena di luar tanggung jawab redaksi. Ingin menciptakan goresan pena kau sendiri? Klik di sini sekarang!
Belum ada Komentar untuk "Penahanan Dokter Bagus Gadungan Di Bone Sulsel Ditangguhkan"
Posting Komentar